planet_kita

Suatu Saat di Pojok Alam Semesta...

03 Juli 2008

Giovanni Domenico Cassini, Diabadikan di Benda Langit dan Wahana Antariksa

Salah satu proyek peluncuran wahana antariksa yang paling ambisius dalam sejarah adalah misi Cassini / Huygens ke Saturnus. Selain dikarenakan menelan anggaran yang besar,lebih dari 30 trilyun rupiah, juga dilihat dari kompleksitas misi yang diemban kedua wahana.

Satelit Huygens (yang diambil dari nama astronom Christiaan Huygens) telah mendarat di Titan,satelit terbesar Saturnus, yang sering diumpamakan sebagai model Bumi pada usia awalnya.

Kesuksesan pendaratan Huygens pada 14 Januari 2005 lalu,tidak bisa dilepaskan dari optimalnya fungsi wahana induk yaitu Cassini yang akan menyelesaikan tugasnya mengorbit Saturnus dan mempelajari fenomena alam di Sistem Saturnus pada paruh 2008. Sama seperti penamaan satelit Huygens, nama satelit Cassini yang berharga sekitar 15 trilyun rupiah diambil dari nama astronom Italia-Perancis yaitu Giovanni Domenico Cassini, yang juga merupakan sejawat Huygens.


Penemuan

Cassini lahir pada 8 Juni 1625 di Perinaldo, Genoa, kota kecil dekat Perancis. Ia menyelesaikan pendidikan matematika dan astronomi di sekolah gereja dan menjadi astronom di Panzano Observatory, dari tahun 1648 – 1669. Saat yang sama menjadi profesor astronomi dan matematika di Bologna. Sebenarnya Cassini lebih tertarik mendalami astrologi dibandingkan dengan astronomi.

Pada masa ini, Cassini berhasil menghitung kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap bidang orbitnya sebesar 23 derajat 29 menit. Proyek lainnya adalah meneliti refraksi cahaya Matahari, mengembangkan teori keplanetan dan mengamati komet pada tahun 1664 dan 1668.

Pada 1665 Cassini berhasil menentukan periode rotasi Yupiter sebesar 9 jam 56 menit dan periode rotasi Mars yaitu 24 jam 40 menit. Periode Rotasi Yupiter didasarkan pengamatan terhadap Bintik Merah Besar, yang ditemukan Robert Hooke (1635-1703) di tahun 1664. Sedangkan periode rotasi Mars didasarkan atas pengamatan perubahan penampakan permukaan Mars, seperti kemunculan Syrtis Major ( di bujur 270 derajat ) yang sebelumnya ditemukan Huygens di tahun 1659 dan penemuan tudung es di kutub Mars. Cassini juga mengamati fase perubahan Venus di tahun 1665. Pengamatan yang teliti atas atmosfer Yupiter diperoleh penemuan bahwa Yupiter berotasi secara diferensial, yaitu periode rotasi atmosfer Yupiter berbeda-beda sesuai jaraknya dari ekuator.

Pada April 1669 Cassini pergi ke kerajaan Perancis. Bertemu dengan raja Louis XIV dan diminta bekerja sama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan perancis Academie Royale des Sciences. Ia diserahi proyek merancang sebuah observatorium di Paris yang diberi nama Observatorium Paris. Di observatorium inilah ia menjabat direktur pertama kali hingga akhir hayatnya .

Bersama Christiaan Huygens dilakukan berbagai proyek penelitian melalui teleskop refraktor sepanjang 40 m. Betah di Perancis, pada 1673 Cassini resmi menjadi warga negara Perancis. Nama depannya “di-perancis-kan” menjadi Jean Dominique. Di tahun ini pula, Cassini menikah dengan perempuan Perancis. Selama di Perancis, ia melakukan banyak sekali pengamatan komet pada tahun 1672, 1677, 1698, 1699, dua buah komet di tahun 1702, 1706 dan 1707.

Bertempat di Observatorium Paris, Cassini melakukan pengamatan simultan dengan Jean Richer (1630-96) yang berada di Observatorium Cayenne, Amerika Selatan menghitung jarak Mars ketika oposisi (kedudukan planet saat sudut elongasinya 180 derajat ) pada 1672. Hasil perhitungannya dipergunakan untuk menentukan skala Tata Surya yaitu jarak antara Bumi-Matahari, yang di kenal sebagai satu satuan astronomi ( 1 SA ) atau 150 juta km. Perhitungan Cassini ternyata lebih pendek 7 persen dari 1 SA.

Penentuan berapa besar sebenarnya 1 SA sangat penting, terlebih pada masa itu. Dengan mengetahui secara tepat besarnya 1 SA maka manusia bisa mengetahui luas yang sebenarnya dari Tata Surya. Hingga kini-pun para astronom masih berupaya untuk menentukan dengan tepat 1 SA, salah satunya melalui transit planet.

Cassini memperbaiki perhitungan gerak satelit Yupiter, dan menemukan pengaruh terhadap pembelokan cahaya. Sebagai contoh ketika terjadi okultasi satelit Yupiter, yaitu ketika satelit tersebut berada di seberang Yupiter dari arah pengamat, maka periode rotasi menjadi lebih lama dari yang sebenarnya. Pekerjaan ini dipergunakan untuk menghitung kecepatan cahaya di tahun 1675.

Cassini berhasil menemukan 4 satelit Saturnus yaitu Iapetus (1671), Rhea (1672), Tethys (1684), dan Dione (1684). Tahun 1675, Cassini mengamati bahwa cincin Saturnus ternyata dipisahkan oleh sebuah celah. Kemudian hari celah selebar 4.700 km dinamakan Divisi Cassini. Dengan penemuan ini, Cassini berpendapat bahwa cincin Saturnus tersusun atas banyak partikel kecil.

Di tahun 1683, Cassini menemukan “cahaya zodiak”, yaitu cahaya yang terbentuk sebagai pantulan debu dan partikel di sekitar bidang ekliptika. Pendapat ini mengoreksi anggapan bahwa cahaya zodiak merupakan awan atau aura dari partikel di sekitar Matahari. Paska 1683 ia bergabung dalam pengukuran Bumi yang dipimpin Jean Picard. Pada 1692 ia memublikasikan peta Bulan yang dibuat lebih detail.
Dengan banyak penemuan di atas, satu lagi keistimewaan Cassini yang sulit tertandingi adalah menciptakan generasi astronom. Mulai dari putranya Jaques Cassini (Cassini II, 1677-1756), lalu cucu laki-lakinya César François Cassini (Cassini III, 1714-84) dan buyut laki-lakinya Jean Dominique Cassini (Cassini IV, 1748-1845) menjadi direktur Observatorium Paris.

Penemuan terakhir Cassini sebelum buta pada 1711 yaitu nebula yang berada di antara Canis Major dan Canis Minor.

Penghargaan

Sepanjang lebih dari 50 tahun, G.D. Cassini (atau Cassini I) mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Ia dikenal pula sebagai insinyur karena mengembangkan berbagai teknik pengamatan dalam astronomi.

Sudah sepatutnyalah masyarakat astronomi internasional memberikan penghargaan dengan diwujudkan mencantumkan namanya sebagai nama kawah di Bulan berdiameter 56 km pada posisi 40,2 derajat lintang utara dan 4,6 derajat bujur timur di tahun 1935. Nama kawah di Mars berdiameter 412 km di posisi 23,8 lintang utara dan 328,2 derajat bujur barat di tahun 1973. Nama daerah di Iapetus, satelit Saturnus yang ditemukannya, di tahun 1982, pada posisi 28,1 derajat lintang selatan dan 92,6 derjat bujur barat. Nama asteroid yang ditemukan C.W. Juels di Observatorium Hills pada 9 November 1999 yang sebelumnya berkode 1999 VA9. Jauh hari sebelumnya asteroid ini ditemukan dengan kode been 1926 XH, 1926 YB, 1986 RS16 dan 1986 TM15. Nama wahana induk dalam misi Cassini/Huygens dan nama celah di cincin Saturnus.

Cassini meninggal di Paris pada September 1712 dalam usia 88 tahun.

Label: ,

Clyde W. Tombaugh : Penemu Pluto (yang Ternyata hanya Planet Kerdil)

Sore itu,18 Februari 1930, seorang pemuda di usia ke-24 merapikan bajunya. Lalu, berjalan mantap menyusuri lorong menuju ruang direktur Observatorium Lowell di Flagstaff, Arizona, tempatnya bekerja (sambil belajar). Setelah mengetuk pintu dan membukanya, ehem…dengan suara mantap, ia berujar,” Tuan, saya telah menemukan planet yang anda cari selama ini “.
Hari itu menjadi hari yang bersejarah. Bagaimana tidak, Pluto --demikian nama yang diberikan ke obyek langit yang baru ditemukan dan dikukuhkan sebagai planet ke 9 beberapa minggu setelahnya, merupakan klimaks pencarian planet “X” (planet yang belum diketahui) yang telah berlangsung lama.
Puluhan tahun kemudian, pada 1992 NASA mengirim surat untuk meminta ijin Clyde W. Tombaugh,si pemuda itu, untuk mengunjungi planetnya.Tombaugh terharu mendengar permintaan ini. Ia merasa bahwa jerih payahnya selama ini dalam meneliti Pluto, mendapat pengakuan sebagai orang yang seharusnya. Pluto Express wahana antariksa yang ditujukan untuk misi tersebut direncanakan diluncurkan tahun 2003.Sayangnya, Tombaugh meninggal dunia pada 17 Januari 1997 dalam usia hampir 91 tahun. Apalagi Pluto Express batal diluncurkan.
Sebagai gantinya, pada pertengahan Januari 2006, wahana antariksa New Horizons diluncurkan mengemban misi seperti yang diemban Pluto Express. Misi New Horizons sangat penting dikarenakan banyaknya informasi yang belum diketahui mengenai Pluto dan perdebatan yang menyertainya seputar status keplanetannya.
Perdebatan ini tuntas sudah pada 24 Agustus lalu dimana otoritas tertinggi astronomi yaitu International Astronomical Union (IAU) dalam pertemuannya lebih dari sepekan di Praha,Ceko, telah menetapkan Pluto “hanya” sebagai planet kerdil / katai (dwarf planet),sebuah klasifikasi baru anggota Tata Surya. Seandainya Tombaugh masih hidup,entah bagaimana perasaannya.Yang pasti janda Tombaugh menyatakan kekecewaannya.

Pencarian Planet X
Tombaugh lahir 4 Februari 1906 di daerah pertanian dekat Streator, Illionis, kemudian pindah di Burdett,Kansas, AS.Sejak remaja, ia telah memperlihatkan minat yang besar atas astronomi. Ayahnya membelikannya teleskop kecil model Sears Roebuck berdiameter 2 1/4-inchi. Selain menggunakan teleskop itu, Tombaugh juga mengotak-atiknya.
Teleskop lebih besar berdiameter 9 inchi ia peroleh. Dengan teleskop ini,ia melakukan pengamatan Yupiter dan Mars lantas mengirimkan hasil pengamatannya ke Observatorium Lowell. Harapannya, ia akan mendapatkan masukan dari para astronom profesional atas hasil kerjanya tersebut.
Pihak observatorium menyambut hangat hasil penelitian dan menilainya sebagai seorang astronom amatir yang bagus. Bukan hanya masukan atas hasil kerjanya, tetapi juga tawaran kerja untuk mengoperasikan teleskop fotografik baru.
Pada 1929 Tombaugh bergabung sebagai astronom yunior untuk proyek pencarian planet “X” yang berada di luar orbit Neptunus. Adapun planet X sendiri muncul ketika astronom menghitung orbit Uranus (ditemukan William Herchel dan ditetapkan pada 26 April 1781) dan menemukan ternyata orbit Uranus mengalami gangguan.

Setelah Neptunus ditemukan oleh J.F Encke dan H.L d’Arrest di Observatorium Berlin pada Agustus 1846 dimana sebelumnya diramalkan oleh J.C Adams dan J.J Le Verrier pada 1845, orbit Uranus bisa diramalkan dalam dengan lebih teliti.
Namun penemuan Neptunus tidak menjawan tuntas adanya gangguan pada orbit Uranus. Muncullah pemikiran kemungkinan adanya planet lain di luar orbit Neptunus yang kemudian diberinama planet X.

Astronom William Pickering dan Percival Lowell memulai pencarian serius planet itu pada 1905 selama empat tahun. Pencarian ini tidak berhasil karena mereka tidak menghitung secara cermat orbit Neptunus.

Pencarian diteruskan dengan cara lain yaitu survei langit secara topografik.dan tidak berhasil hingga Lowell meninggal di tahun 1916.Pickering meneruskan pencarian planet X ini yang kemudian ia beri nama sebagai planet O. Dan tidak menemukan hasil hingga tahun 1929. Ironisnya, tanpa disadari sebenarnya Pickering telah memotret planet tersebut sebanyak 4 kali!.

Menemukan Pluto
Melalui teleskop fotografik berdiameter 33 cm di atas,Tombaugh meneruskan upaya Lowell dan Pickering. Di tahun 1929, sama seperti Pickering, Tombaugh berhasil memotret planet yang dicari. Sayangnya ia tidak berhasil mengenalinya sebagai planet dan menganggapnya sebagai bintang bercahaya lemah.
Beruntung ada sebuah mesin yang bisa memroyeksikan pelat fotografik yaitu blink comparator. Melalui mesin ini pelat-pelat fotografik hasil pemotretan suatu daerah langit dalam interval beberapa hari bisa dianalisis untuk diketahui apakah ada obyek (yang terekam sebagai titik) bergerak yang akan tampak timbul hilang dari dua pelat fotografik.
Pada malam hari tanggal 23 dan 29 Januari 1930,Tombaugh memotret daerah langit dekat rasi Gemini (sekitar bintang Delta Geminorum). Sore hari tanggal 18 Februari dua pelat itu dibandingkan melalui blink-comparator.Ternyata ada titik timbul hilang. Nah, inilah Planet yang dicari !
Dari dua pelat fotografik tersebut,titik-titik bintang akan berposisi tetap,sedangkan obyek lain seperti planet ataupun komet akan berpindah.
Planet itu kemudian diberi nama Pluto,yang dalam mitologi Yunani merupakan Dewa penguasa dunia kegelapan, baru diumumkan tanggal 13 Maret 1930.Penemuan Pluto menimbulkan antusiasme di masyarakat. Bahkan tokoh kartun ciptaan Walt Disney, yaitu anjing piaraan Mickey Mouse-pun diberi nama Pluto.
Lambang Pluto adalah PL diambil dari nama depan Percivall Lowell sebagai penghargaan pada astronom yang menjadi pioneer pencarian planet X tersebut.

Kontroversi
Alih-alih akan menjelaskan gangguan orbit Uranus (dan Neptunus) ternyata penemuan Pluto dan penglasifikasiannya sebagai planet menimbulkan kontroversi ketika 20 tahun kemudian Gerard P. Kuiper menemukan obyek di luar obyek Neptunus, yang kemudian digolongkan sebagai Obyek Sabuk Kuiper atau Trans Neptunian Object. Pluto berada di wilayah Sabuk Kuiper tersebut.
Ukuran Pluto yang begitu kecil ternyata memunculkan pemikiran bahwa Pluto bukanlah sebuah planet.Bahkan dulunya Pluto diduga sebagai satelit Neptunus yang terlempar ke luar Tata Surya. Lalu apa yang menjadi penyebab gangguan orbit dua planet di atas.Para astronom belum bisa menjelaskan.

Penemuan lain
Setelah menemukan Pluto,Tombaugh terus melakukan pengamatan selama 13 tahun. Tidak ada planet lagi yang ditemukan.namun ia menemukan 6 buah kluster bintang,dua buah komet, ratusan asteroid,berpuluh-puluh kluster galaksi dan sebuah superkluster.
Selama rentang waktu itu pula, ia melanjutkan kuliah di Universitas Kansas.Meraih gelar sarjana tahun 1936 dan master tahun 1939 dalam bidang astronomi. Juga menikah dengan Patricia Edson di tahun 1934.
Kemudian mengajar di Arizona State College (berubah nama menjadi Northern Arizona University) dan University of California di Los Angeles.Kemudian pindah ke New Mexico di 1946 untuk terlibat didalam pengembangan roket V-2 (yang kemudian hari dipergunakan dalam misi Apollo ke Bulan). Di sinilah ia mendesain sejumlah instrumen optik seperti super kamera yang dinamai IGOR (Intercept Ground Optical Recorder). Pada 1955 ia keluar dan menjadi guru besar astronomi di New Mexico State University hingga pensiun pada 1973.
Meskipun usianya beranjak kian tua, Tombaugh tidak berhenti dalam kegiatan riset dan pendidikan. Ia dikenal sebagai sosok yang amat antusias,hangat dan memiliki selera humor tinggi.
Di akhir masa hidupnya,ia masih meneliti mengenai gerak rotasi planet Merkurius dan Bintik Merah Besar Planet Yupiter serta mengembangkan teknik fotografi pada satelit buatan untuk menyurvei permukaan Bumi.

Label: ,

Christiaan Huygens 1629 - 1695:“ Si Penemu Titan”

Dibandingkan nama Newton dan Galileo, nama Christiaan Huygens terdengar masih asing bagi telinga kita. Padahal astronom asal negeri kincir angin ini merupakan ilmuwan yang memberi sumbangan besar dalam khasanah ilmu astronomi, matematika, fisika, dan optika. Bahkan disebut-sebut sebagai pakar mekanika terbesar di abad 17 karena mampu menggabungkan pendekatan matematika Galileo dan pandangan Descartes dalam merumuskan fenomena alam. Huygens merupakan eksperimentalis sejati, yang mana hidupnya dihabiskan di laboratorium.

Nama Christiaan Huygens kembali melambung dan perlu kita ingat ketika ditorehkan sebagai nama wahana antariksa yang diterjunkan ke Titan , satelit terbesar Saturnus dan terbesar kedua di Tata Surya setelah Ganymede, Satelit Yupiter. Sekaligus merupakan satelit beratmosfer paling tebal yaitu 300 km.

Dimasa hidupnya, Huygens banyak bergaul dengan ilmuwan besar di Eropa, seperti Newton, Leibniz, Robert Hooke, Edmund Halley, Descartes dan lainnya. Dikarenakan semasa hidupnya, Huygens sering berkunjung ke Royal Society di Inggris, Academic Royale des Sciences di Perancis, juga di Denmark.
Huygens lahir pada 14 April 1629 di Hague, Netherlands dari keluarga terpandang. Ayahnya, Constantin Huygens sarjana fisika dan seorang diplomat dan berharap anaknya menjadi ilmuwan hebat. Karenanya, ia meminta Mersenne dan Descartes, dua ilmuwan terkenal masa itu, untuk memberi privat pada Huygens.
Belajar geometri, mekanika dan kemampuan dalam memainkan alat musik di rumah hingga berusia 16 tahun,. Gurunya yang amat berpengaruh adalah Descartes yang berhasil memompa minatnya dalam bidang matematika.
Christiaan Huygens belajar hukum dan matematika di Unversitas Leiden dari 1645 hingga 1647. Van Schooten mengajarinya matematika. Lalu, dari tahun 1647 hingga 1649, Huygens belajar hukum dan matematika. Beruntung, ia belajar matematika pada John Pell. Lalu, berkorespondensi dengan Marsene
Tahun 1649, Huygens pergi ke Denmark sebagai diplomat dan berharap melanjutkan ke Stockholm untuk menjumpai Descartes. Sayangnya, cuaca tidak mendukung.
Karya ilmiah Huygens pertama kali diterbitakan tahun 1651 yaitu Cyclometriae membahas tentang lingkaran. Lalu, tahun 1654 yaitu De Circuli Magnitudine Inventa membahas berbagai macam hal persoalan ilmiah.
Ia juga menaruh minat pada pembuatan lensa dan teleskop. Tahun 1654, ia menemukan metode baru pembuatan lensa. Setahun kemudian, ia berhasil mengamati satelit Saturnus yaitu Titan. Lensa yang dikembangnyapun, kemudian hari dipakai pula untuk mengamati planet, satelit, dan nebula Orion. Tahun itu pula ia pergi ke Paris dan menemui Boulliau . Disarankan olehnya, untuk belajar tentang probabilitas pada Pascal dan Fermat. Kembali ke Belanda, Huygens menghasilkan karyanya mengenai kalkulus probabilitas yaitu De Ratiociniis in Ludo Aleae.
Selanjutnya, ia menemukan cincin Saturnus, namun berbeda dengan teori tentang cincin Saturnus yang diajukan oleh Roberval dan Boulliau. Oleh Galileo beberapa tahun sebelumnya, cincin Saturnus itu masih dianggap sebagai bagian dari Saturnus.
Di tahun 1659, Huygens menerbitkan karyanya Systema Saturnium yang menjelaskan tahap dan perubahan fase cincin Saturnus. Pengamatan oleh ilmuwan lain yaitu Fabri pada tahun 1665, ternyata membenarkan teori Huygens.
Tahun 1656, ia mematenkan pendulum arloji penemuannya, yang mampu meningkatkan keakuratan pengukuran waktu. Teori mengenai gerak pendulum diungkapkannya dalam Horologium Oscillatorium sive de motu pendulorum (1673). Juga menemukan hukum gaya sentrifugal dari gerak lingkaran uniform.
Tahun 1661, Huygens pergi ke London, untuk mengetahui lebih banyak Lembaga Royal Society yang mengadakan pertemuan di Gresham College. Ia menaruh perhatian yang amat besar pada ilmuwan-ilmuwan Inggris itu, dan terus melakukan kontak setelahnya. Ia menunjukkan teleskopnya, dan para ilmuwan Inggris mempergunakan teleskop itu. Raja dan Ratu Inggris memakai teleskop itu untuk mengamati Bulan dan Saturnus.
Selama di London, Huygens melihat pompa hampa udara penemuan Boyle, dan menggunakannya. Di tahun 1663, Huygens menjadi anggota Royal Society, lembaga ilmiah yang amat prestisius. Di tahun ini, Huygens mematenkan rancangan arloji pendulumnya.
Percobaan Huygens tentang tumbukan benda elastik memperlihatkan kesalahan hukum Descartes tentang tumbukan. Tema ini diangkat dalam pertemuan Royal Society pada 1668. Royal Society mengajukan pertanyaan mengenai tumbukan dan dijawab oleh Huygens melalui percobaan bahwa momentum dua buah benda sebelum tumbukan sama dengan momentum keduanya setelah tumbukan. Kemudian popular dinamakan Hukum Kekekalan Momentum.
Gerak melingkar menjadi tema penelitian Huygens waktu itu, namun ia juga memikirkan mengenai teori gravitasi Descartes yang berpijak pada materi-materi berputar (yang disebutnya vorteks).. Ada yang salah di teori Descartes. Di tahun 1669, huygens mengunjungi Académie membahas masalah ini. Setelah itu, Roberval dan Mariotte mengoreksi pandangan Descartes.
Akibat sering bolak-balik paris-Belanda, Huygens jatuh sakit pada 1670. Sebelum meningalkan paris, ia berjanji untuk tidak mempublikasikan penelitiannya emngenai mekanika sebelum dikirimkan ke Royal Society.
Tahun 1671, Huygens balik lagi ke Paris. Namun, di tahun 1672, Raja Louis XIV menyerbu Belanda, Huygens melihat posisinya sulit, dan menjadi hal yang amat penting baginya berada di Paris. Ilmuwan perancis sangat mendukung penelitiannya.
Tahun 1672 Huygens bertemu dengan Leibniz di Paris. Setelah itu Leibniz secara rutin berkunjung ke Académie. Leibniz berhutang budi pada Huygens, karena pada Hygenslah ia belajar matematika. Di tahun yang sama, Huyens belajar mengenai prinsip kerja teleskop Newton dan cahaya. Ia mencoba mengkritisi teori Newton tentang cahaya terutama tentang warna.
Menurutnya, cahaya merupakan serangkaian getaran gelombang yang tak teratur, bergerak dengan kecepatan tertentu dalam medium eter. Juga, menurutnya, titik-titik di muka gelombang dari gelombang yang merambat dapat dianggap sebagai pusat gelombang baru. Pendapat ini dikenal sebagai Prinsip Huygens yang mampu menurunkan rumus pada hokum pemantulan dan pembiasan. Karya kerja itu dituliskan dalam Horologium Oscillatorium sive de motu pendulorum (1673) memperlihatkan bahwa pengaruh Huygens telah melampui Descartes, gurunya.
Horologium Oscillatorium berisi prinsip kerja pendulum. Huygens membuktikan bahwa hanya ayunan bandul yang bergerak dalam suatu busur sikloid saja yang berayun stabil. Juga dirumuskan hubungan antara panjang dan waktu ayun (periode) sebuah ayunan/bandul. Hasil perhitungannya memperlihatkan besar gaya sentrifugal dan percepatan jatuh bebas. Juga, telah diselesaikan persoalan pendulum campuran.
Huygens menderskripsikan surutnya benda dalam ruang vakum, dalam gerak vertikal atau membentuk kurva yang lonjong. Didefinisikan “Evolusi” dan “Involusi” kurva, setelah diberikan parameter penting, telah ditemukan perubahan bentuk lingkaran dan parabola. Untuk pertama kalinya, Huygens melakukan penelitian mengenai gerak benda yang lebih besar dari partikel.
Masa-masa akhir hidupnya, Huygens meneliti mengenai kehidupan di luar Bumi. Ia termasuk pelopor dalam bidang ini. Pemikirannya tentang hal itu dituliskan dalam Cosmotheoros (1698) yang dipublikasikan setelah ia meninggal. Ia juga melanjutkan pekerjaannya dalam bidang lensa dan gerak ayun pendulum dan menemukan jam pendulum baru. Dalam bidang musik, Huygens membuat tradisi dengan menciptakan 31 nada di abad itu. Karyanya dimuat dalam Lettre touchant le cycle harmonique. Christiaan Huygens meninggal pada 8 Juli 1695 di kota kelahirannya.

Meskipun Huygens seorang ilmuwan terkemuka di Eropa, namun nama Newton berhasil menenggelamkan nama Huygens ketika karyanya yang monumental diterbitkan yaitu Principia.

Kini saatnya kita mengenang Huygens ketika namanya melambung di wahana antariksa yang diterjunkan di tempat yang tercatat sebagai lokasi terjauh penerjunan satelit buatan manusia, yaitu Titan, satelit Saturnus yang ditemukannya.

Label: ,

27 Juni 2008

Sistem Optika Adaptif

Pengamatan astronomi dengan menggunakan teleskop optik landas Bumi memiliki kelemahan yaitu cahaya dari benda di antariksa mengalami gangguan akibat atmosfer yang terus bergerak (turbulensi) dalam perjalanannya menuju permukaan Bumi.

Bintang di malam hari tampak berkelap-kelip karena gelombang cahaya yang tiba di mata tidak teratur. Demikian halnya, cahaya yang tiba di permukaan teleskop akan menghasilkan citra kurang tajam. Terlebih untuk obyek yang amat redup.

Untuk mengurangi turbulensi atmosfer banyak teleskop dibangun di tempat tinggi. Namun, tetap saja, setinggi apapun teleskop berada di muka Bumi, akan selalu berada dalam lapisan atmosfer.

Nah bagaimana caranya untuk mengurangi atau bahkan meniadakan pengaruh atmosfer bagi perjalanan cahaya hingga tiba di permukaan teleskop ? Untuk itu dikembangkan teknologi Sistem Optika Adaptif (adaptive optics). Teknologi ini semula dipergunakan di Departemen Pertahanan Amerika Serikat dalam proyek perang bintang (star war) dan satelit mata-mata di era 1980-an. Kemudian diadaptasi untuk keperluan penelitian ilmiah.


Perlengkapan

Sebuah teleskop optik berteknologi Optika Adaptif dilengkapi dengan perlengkapan tambahan berupa :

- Pemancar laser monokromatis untuk menciptakan bintang semu / bintang buatan di lapisan atas atmosfer Bumi,
- Cermin karet (rubber mirror) yaitu cermin berpermukaan lentur (bisa berubah bentuk) karena merupakan kumpulan cermin-cermin kecil yang bisa bergerak naik-turun. Pergerakan cermin karet disebabkan oleh pergerakan halus aktuator (semacam per) dalam orde mikron (1/.1000 cm) dalam waktu sangat singkat ( orde 1/1.000 detik) yang diletakkan dibawahnya.
- Komputer berkecepatan tinggi untuk menggerakkan aktuator sehingga bisa mengubah bentuk cermin karet
- Cermin setengah tembus berguna untuk sebagian memantulkan cahaya dan sebagian meneruskan cahaya yang mengenainya
- Sensor muka gelombang berguna untuk memecah cahaya menjadi beberapa berkas dari cahaya yang menimpanya. Cahaya yang menimpa sensor ini sudah berkurang setengah intensitasnya karena setengahnya lagi menimpa
- Detektor optik

Prinsip Kerja

Pertama-tama harus ada sumber cahaya terang yang bisa dijadikan rujukan untuk mengukur besarnya turbulensi atmosfer. Contohnya bintang terang. Namun keberadaan bintang terang ini hanya di beberapa lokasi tertentu,tidak menjangkau seluruh bola langit. Akibatnya pengamtan akan dibatasi lokasi obyek dan waktu. Karenanya diciptakan bintang semu / buatan yang berasal dari pancaran sinar laser di arah obyek yang akan diamati.

Pancaran sinar laser itu akan mengeksitasikan atom sodium di lapisan atas atmosfer. Akan tercipta “titik kecil”, yang lebih panas dari sekitarnya. Titik kecil itulah "bintang buatan”.

Cahaya masuk ke dalam teleskop dan menuju ke cermin karet, lalu dipantulkan ke cermin setengah tembus. Melalui cermin setengah tembus, setengah intensitas cahaya dipantulkan ke detektor dan setengahnya lagi diteruskan ke sensor muka gelombang untuk dipecah menjadi beberapa berkas. Bila turbulensi atmosfer besar akan terjadi interferensi.

Besar kecilnya interferensi di sensor muka gelombang diteruskan ke komputer, yang secara otomatis mengoreksi bentuk cermin karet. Perubahan bentuk cermin karet mengakibatkan besar interferensi yang diterima sensor muka gelombang kian berkurang. Demikian seterusnya melalui umpan balik itu interferensi menjadi minimal.

Karena kondisi atmosfer senantiasa berubah, maka kinerja komputer harus sangat cepat sehingga koreksi terhadap cermin karet berlangsung seketika (real time).

Melalui perkembangan teknologi dimungkinkan kian sempurna kinerja Sistem Optika Adaptif, seperti diameter cermin karet kian besar dengan jumlah aktuator semakin banyak dan pergerakan kian halus dan cepat.

Peristiwa penting yang perlu dicatat dalam pengembangan teknologi Sistem Optika Adaftif adalah keberhasilan European Southern Observatory di Cerro Paranal, Cili.

Pada 28 Januari 2006, sinar laser pada teleskop Yepun berdiameter 8,2 meter menghasilkan bintang buatan berdiameter 50 cm di ketinggian 90 km, untuk pertama kalinya di belahan langit selatan. Melalui teknologi ini diharapkan mencapai ketajaman citra seperti teleskop antariksa Hubble.

Label:

Teleskop Spitzer Mengungkap “Dunia Gelap” Alam Raya

Teleskop Spitzer adalah teleskop antariksa pertama yang diluncurkan dalam lintasan orbit Bumi. Teleskop ini selalu mengekor gerak Bumi mengitari Matahari.

Dicetuskan oleh astronom Lyman Spitzer (26 Juni 1914 - 31 Maret 1997) saat menjabat ketua Departemen Astrofisika Universitas Princeton di usianya ke 33 tahun pada 1946. Teleskop berbiaya 2,2 milyar dollar AS diluncurkan pada 25 Agustus 2003 dengan roket Delta II jam 01.35 waktu setempat dari Cape Canaveral, Florida, AS, setelah penundaan dan mengalami pengembangan selama 2 dekade.

Semula teleskop ini bernama Space Infra Red Telescope Facilities (SIRTF) karena beroperasi di rentang cahaya inframerah dengan panjang gelombang 3-180 mikrometer. Sebagai penghormatan terhadap penggagasnya, nama teleskop diubah menjadi Teleskop Spitzer.

Untuk mendapatkan kemampuan teleskop seperti yang dimaksudkan, teleskop dengan berat 865 kg dan tinggi 4 m lensanya terbuat dari berilium, sebuah material yang amat ringan, yang didinginkan di dalam helium cair sebanyak 360 liter pada temperatur dibawah - 268 derajat C. Mendekati temperatur nol mutlak.

Melalui lensa berdiameter 85 cm dan berat 50 kg itulah para astronom mendeteksi obyek alam semesta yang bertemperatur amat rendah yang tidak teramati melalui cahaya tampak,seperti proses terbentuknya bintang.Dimana sebuah benda yang berada di pusat piringan akresi belum melakukan reaksi fusi nuklir di intinya.

Kemampuan yang menakjubkan inilah yang membawa manusia melihat "kenyataan lain", kosmos yang sedang membentuk yang diselubungi oleh awan gas dan debu raksasa.

Tertunda

Spitzer merupakan sistem peneropongan bintang sistem peneropongan bintang (Great Observatories) ke-empat yang diluncurkan NASA. Sebelumnya telah diluncurkan Teleskop Antariksa Hubble pada 1990; Gamma Ray Observatory, pada 1991 dan Chandra X-Ray Observatory pada 1999. Keempat teleskop tersebut memiliki fungsi berbeda karenanya bekerja pada rentang panjang gelombang berbeda.
Bila mengikuti jadwal semula harusnya Spitzer diluncurkan pada 1990, setelah direncanakan dengan matang pada 1983. Perubahan penting teleskop Spitzer adalah posisi orbitnya di antariksa.
Bila semula akan diletakkan mengitari Bumi, seperti halnya teleskop Hubble, kemudian diubah di orbit Bumi. Artinya teleskop ini berada di orbit heliosentris.Spitzer mengitari Matahari, sebagaimana halnya Bumi.
Menggunakan cahaya Matahari sebagai sumber energinya, semula teleskop ini berjarak 42 juta km dari Bumi dan bertambah 18 juta km tiap tahunnya. Dengan cara ini memberikan keuntungan yaitu selain bisa menghemat sumber tenaga listriknya, Spitzer tidak terganggu oleh panas yang dipantulkan Bumi.
Selain itu, panel surya yang bertugas menangkap radiasi Matahari juga berfungsi melindungi teleskop “supaya tetap dingin “, saat yang sama melindungi arah pandang teleskop yang dioperasikan selalu menjauhi arah Matahari.
Amat Sensitif
Melalui cermin utama berdiameter hampir 1 m yang ekstra sensitif (benda seukuran remote kontrol TV sejauh 40.000 km mampu dideteksi) dan amat dingin, panas serendah apapun di kedalaman antariksa yang merentang dalam panjang gelombang inframerah dideteksi, dipantulkan dan difokuskan menuju cermin sekunder yang lebih kecil yang berhadapan dengan cermin utama.
Selanjutnya dipantulkan lagi melewati lobang di bagian tengan cermin utama menuju tiga instrumen ilmiah yang ditempatkan dibelakang cermin utama. Ketiga instrumen itu adalah Fotometer Pencitraan Multikanal (MIPS), Spektograf inframerah (IRS) dan Kamera Susunan Inframerah (IRAC) akan menganalisa cahaya inframerah dalam berbagai frekuensi (atau panjang gelombangnya). Tangki helium cair diletakkan dibagian bawah ketiga instrumen tersebut.
Dengan kemampuannya seperti di atas, dalam 3 tahun ini, teleskop Spitzer telah memberikan informasi yang berharga mengenai objek-objek alam semesta,terutama proses lahirnya bintang baru yang berada dalam selubung awan gas dan debu.

Layaknya dokter dengan peralatan medis USG untuk melihat dan memantau perkembangan janin di dalam rahim, Spitzer memainkan peran mengungkap keajaiban-keajaiban alam semesta yang tidak kasat mata. “Dunia gelap” dalam pandangan cahaya tampak yang ternyata begitu hingar bingar dalam pandangan Spitzer.

Label:

Para Pemburu “Bumi Lain” di Luar Bumi

Peluncuran berbagai jenis teleskop antariksa dalam perburuan planet di luar Tata Surya akan semakin melengkapi pemahaman manusia mengenai pembentukan sistem bintang dan jenis planet beserta pengiring lainnya.

Berapa jumlah planet di alam semesta ? Atau pertanyaan yang "lebih dekat" adalah berapa jumlah planet di Galaksi Bima Sakti ? Tidak ada yang tahu. Saat ini yang diketahui adalah sebuah bintang memungkinkan memiliki lebih dari satu buah planet. Atau pada sistem bintang ganda (dua sistem bintang) atau majemuk (lebih dari 2 sistem bintang) bisa memiliki planet.

Bisa dipastikan melalui peluncuran berbagai teleskop antariksa di bawah ini, penemuan extrasolar-planets akan lebih deras dari yang telah dilakukan teleskop landas Bumi yang kini telah menemukan lebih dari 208 buah planet dalam kurun 16 tahun, terhitung sejak ditemukannya extrasolar planet pertama kali pada 1995.


Teleskop Eddington

Pada Oktober 2000, usulan proyek teleskop Eddington diloloskan dan dimasukkan dalam program ilmiah Horizons 2000+ dalam misi di bawah naungan Badan Antariksa Eropa (ESA). Selanjutnya ESA mengundang berbagai institusi ilmiah dan individu yang tertarik dan memiliki kompetensi untuk terlibat dalam misi Eddington.

Kontrak pembuatan teleskop ini dipercayakan pada konsorsium Astrium di Perancis.Perusahaan ini dipercaya bukan hanya merancang bentuk optik teleskop sehingga menghasilkan citra yang presisi tetapi juga menentukan jenis material apa yang digunakan dalam pembuatan teleskop.

Sama seperti misi yang diemban teleskop COROT, Eddington melakukan survei pada berbagai bintang dan mengamati planet yang transit di depannya. Instrumennya akan mampu mengamati perubahan cahaya yang sedemikian kecil akibat melintasnya sebuah objek di depan bintang.

Satu kendala penggunakan cermin adalah masalah aberasi sferis yaitu fokus cahaya yang datang ditengah berbeda dengan yang datang di tepi cermin. Untuk mengatasi hal ini, biasanya di depan cermin diletakkan lensa pengoreksi yang berfungsi agar semua cahaya yang datang, baik dari tepi ataupun dari tengah cermin dipantulkan ke titik fokus yang sama. Keberadaan lensa pengoreksi ini akan memberatkan bila digunakan pada teleskop Eddington.

Karenanya digunakan solusi dengan memakai dua buah cermin. Satu cermin utama dan satu cermin yang lebih kecil lagi. Cahaya tiba di cermin utama, dipantulkan ke cermin yang lebih kecil dipantulkan lagi menuju kamera, dimana sebelumnya melewati rangkaian lensa yang lebih kecil untuk mengoreksi aberasi.

Teleskop Eddington direncanakan diluncurkan setelah tahun 2007 dengan target perngamatan 500 ribu bintang.


Teleskop Kepler

Teleskop Kepler merupakan bagian dari misi Discovery yang diloloskan NASA pada Desember 2001. Target utama misi Kepler adalah menemukan planet seukuran Bumi di sekitar bintang yang mirip Matahari di galaksi Bima Sakti.

Dalam misi selama 4 tahun ditargetkan Kepler akan memantau tak kurang dari 100 ribu bintang dan menemukan 500 buah planet seukuran Bumi dan lebih dari 1.000 planet seukuran Yupiter.

Diasumsikan bahwa planet seperti Bumi kita itu akan mengorbit bintang seperti Matahari kita pada jarak antara Bumi dengan asteroid yang biasa dinamakan "Habitable Zone", lokasi yang tidak terlalu dingin dan terlalu panas, dan air kemungkinan dalam kondisi cair bukan beku.

Direncanakan Kepler dengan cerminnya berdiameter 95 cm diluncurkan pada Oktober 2008.


Teleskop Darwin

Sesuai dengan namanya "Darwin" yang identik dengan evolusi bentuk kehidupan, teleskop Darwin yang direncanakan pada 1993 diperuntukkan mencari kehidupan di planet lain di luar Tata Surya. Darwin akan mengamati seribu bintang terdekat dengan Matahari.

Teleskop yang beroperasi di rentang cahaya inframerah ini paling canggih dibandingkan teleskop antariksa lainnya karena bukan hanya sekedar mencari planet seukuran Bumi atau planet bebatuan tetapi juga mengamati kondisi atmosfer planet tersebut.

Informasi mengenai komposisi kimia atmosfer planet akan menghasilkan interpretasi mengenai kondisi seperti apa di balik atmosfer itu.

Sebagai contoh adalah Bumi. Di planet kita ini, aktifitas biologi menghasilkan gas yang mempengaruhi komposisi atmosfer. Tumbuhan menghasilkan oksigen dan binatang menghasilkan karbondioksida dan metana.

Berbagai senyawa gas juga air memiliki ciri khas yang merupakan "sidik jarinya" melalui pemantulan cahaya inframerah dimana Darwin mampu mengamati keberadaan "sidik jari" tersebut.

Kemunculan atau berkurangnya sebuah atau beberapa senyawa gas pada sebuah planet akan diidentifikasi melalui spektrometer Darwin. Perubahan komposisi gas inilah yang menghasilkan interpretasi "ada apa" dibalik atmosfer planet yang mengorbit bintang nun jauh di sana. Apakah ada kehidupan di sana ?

Bisa dikatakan Darwin merupakan teleskop antariksa raksasa, yang disusun melalui 4 hingga lima kali misi wahana antariksa. Tiap wahana antariksa akan membawa teleskop dengan diameter 3 hingga 4 m. Keseluruhan rangkaian cermin Darwin bila disebandingkan dengan teleskop di Bumi setara dengan teleskop berdiameter 100 m.

Keistimewaan Darwin adalah bahwa cara bekerjanya menggunakan metode yang dinamakan "nulling interferometry". Melalui cara ini cahaya bintang induk tempat planet berada direduksi dengan cara diberikan interferensi sehingga tidak lagi menyilaukan dan planet berukuran kecil dapat diamati.

Proyek Darwin menjadi proyek kerja sama antara ESA dengan NASA dimana kemudian Rusia dan Jepang turut terlibat. Direncanakan diluncurkan pada 2013. Dan ditempatkan di titik Lagrange 2 sejarak 1,5 juta km dari Bumi beroposisi dengan Matahari (menjauhi arah Matahari dari satu bentangan garis lurus Matahari- Bumi).

Label:

Melampui COROT, Teleskop Antariksa Lain Pemburu Bumi yang akan Diluncurkan

Peluncuran Teleskop COROT milik Badan Antariksa Nasional Perancis pada akhir Desember 2006 lalu akan diikuti dengan peluncuran teleskop antariksa lainnya,bahkan dengan kemampuan yang lebih tinggi.

Peluncuran berbagai jenis teleskop antariksa dalam perburuan planet di luar Tata Surya (extrasolar-planets) akan semakin melengkapi pemahaman manusia mengenai pembentukan sistem bintang dan jenis planet beserta pengiring lainnya.

Berapa jumlah planet di alam semesta ? Atau pertanyaan yang "lebih dekat" adalah berapa jumlah planet di Galaksi Bima Sakti ? Tidak ada yang tahu. Saat ini yang diketahui adalah sebuah bintang memungkinkan memiliki lebih dari satu buah planet. Atau pada sistem bintang ganda (dua sistem bintang) atau majemuk (lebih dari 2 sistem bintang) bisa memiliki planet.

Bisa dipastikan melalui peluncuran berbagai teleskop antariksa di bawah ini, penemuan extrasolar-planets akan lebih deras dari yang telah dilakukan teleskop landas Bumi yang kini telah menemukan lebih dari 208 buah planet dalam kurun 16 tahun, terhitung sejak ditemukannya extrasolar planet pertama kali pada 1995.


Teleskop Eddington

Pada Oktober 2000, usulan proyek teleskop Eddington diloloskan dan dimasukkan dalam program ilmiah Horizons 2000+ dalam misi di bawah naungan Badan Antariksa Eropa (ESA). Selanjutnya ESA mengundang berbagai institusi ilmiah dan individu yang tertarik dan memiliki kompetensi untuk terlibat dalam misi Eddington.

Kontrak pembuatan teleskop ini dipercayakan pada konsorsium Astrium di Perancis.Perusahaan ini dipercaya bukan hanya merancang bentuk optik teleskop sehingga menghasilkan citra yang presisi tetapi juga menentukan jenis material apa yang digunakan dalam pembuatan teleskop.

Sama seperti misi yang diemban teleskop COROT, Eddington melakukan survei pada berbagai bintang dan mengamati planet yang transit di depannya. Instrumennya akan mampu mengamati perubahan cahaya yang sedemikian kecil akibat melintasnya sebuah objek di depan bintang.

Satu kendala penggunakan cermin adalah masalah aberasi sferis yaitu fokus cahaya yang datang ditengah berbeda dengan yang datang di tepi cermin. Untuk mengatasi hal ini, biasanya di depan cermin diletakkan lensa pengoreksi yang berfungsi agas semua cahaya yang datang, baik dari tepi ataupun dari tengah cermin dipantulkan ke bidang fokus yang sama. Keberadaan lensa pengoreksi ini akan memberatkan bila digunakan pada teleskop Eddington.

Karenanya digunakan solusi dengan memakai dua buah cermin. Satu cermin utama dan satu cermin yang lebih kecil lagi. Cahaya tiba di cermin utama, dipantulkan ke cermin yang lebih kecil dipantulkan lagi menuju kamera, dimana sebelumnya melewati rangkaian lensa yang lebih kecil untuk mengoreksi aberasi.

Teleskop Eddington direncanakan diluncurkan setelah tahun 2007 dengan target perngamatan 500 ribu bintang.


Teleskop Kepler

Teleskop Kepler merupakan bagian dari misi Discovery yang diloloskan NASA pada Desember 2001. Target utama misi Kepler adalah menemukan planet seukuran Bumi di sekitar bintang yang mirip Matahari di galaksi Bima Sakti.

Dalam misi selama 4 tahun ditargetkan Kepler akan memantau tak kurang dari 100 ribu bintang dan menemukan 500 buah planet seukuran Bumi dan lebih dari 1.000 planet seukuran Yupiter. (Wow... bisa dibayangkan kita akan cukup pusing untuk mengenal satu persatu planet tersebut)

Diasumsikan bahwa planet seperti Bumi kita itu akan mengorbit bintang seperti Matahari kita pada jarak antara Bumi dengan asteroid yang biasa dinamakan "Habitable Zone", lokasi yang tidak terlalu dingin dan terlalu panas, dan air kemungkinan dalam kondisi cair bukan beku.

Direncanakan Kepler dengan cerminnya berdiameter 95 cm diluncurkan pada Oktober 2008.


Teleskop Darwin

Sesuai dengan namanya "Darwin" yang identik dengan evolusi bentuk kehidupan, teleskop Darwin yang direncanakan pada 1993 diperuntukkan mencari kehidupan di planet lain di luar Tata Surya. Darwin akan mengamati seribu bintang terdekat dengan Matahari.

Teleskop yang beroperasi di rentang cahaya inframerah ini paling canggih dibandingkan teleskop antariksa lainnya karena bukan hanya sekedar mencari planet seukuran Bumi atau planet bebatuan tetapi juga mengamati kondisi atmosfer planet tersebut.

Informasi mengenai komposisi kimia atmosfer planet akan menghasilkan interpretasi mengenai kondisi seperti apa di balik atmosfer itu.

Sebagai contoh adalah Bumi. Di planet kita ini, aktifitas biologi menghasilkan gas yang mempengaruhi komposisi atmosfer. Tumbuhan menghasilkan oksigen dan binatang menghasilkan karbondioksida dan metana.

Berbagai senyawa gas juga air memiliki ciri khas yang merupakan "sidik jarinya" melalui pemantulan cahaya inframerah dimana Darwin mampu mengamati keberadaan "sidik jari" tersebut.

Kemunculan atau berkurangnya sebuah atau beberapa senyawa gas pada sebuah planet akan diidentifikasi melalui spektrometer Darwin. Perubahan komposisi gas inilah yang menghasilkan interpretasi "ada apa" dibalik atmosfer planet yang mengorbit bintang nun jauh di sana. Apakah ada kehidupan di sana ?

Bisa dikatakan Darwin merupakan teleskop antariksa raksasa, yang disusun melalui 4 hingga lima kali misi wahana antariksa. Tiap wahana antariksa akan membawa teleskop dengan diameter 3 hingga 4 m. Keseluruhan rangkaian cermin Darwin bila disebandingkan dengan teleskop di Bumi setara dengan teleskop berdiameter 100 m.

Keistimewaan Darwin adalah bahwa cara bekerjanya menggunakan metode yang dinamakan "nulling interferometry". Melalui cara ini cahaya bintang induk tempat planet berada direduksi dengan cara diberikan interferensi sehingga tidak lagi menyilaukan dan planet berukuran kecil dapat diamati.

Proyek Darwin menjadi proyek kerja sama antara ESA dengan NASA dimana kemudian Rusia dan Jepang turut terlibat. Direncanakan diluncurkan pada 2013. Dan ditempatkan di titik Lagrange 2 sejarak 1,5 juta km dari Bumi beroposisi dengan Matahari (menjauhi arah Matahari dari satu bentangan garis lurus Matahari- Bumi).

Label:

Semua Serba Terlambat dan (Ternyata) Saling Berhubungan

Artikel ini ditulis akhir 2006. Sebagian artikel ini telah ditulis dalam berbagai blog berbahasa Indonesia. “Kegelisahan” yang ingin disampaikan disini adalah bahwa ternyata antara ranah metafisika dan fisika memiliki kemungkinan untuk “bertemu”. Boleh jadi,mungkin, seperti jin dan manusia. Kali aja yee…



Kelahiran Yesus Kristus lebih dari 2006 tahun lampau ditandai dengan keberadaan bintang Bethlehem.Muncul berbagai versi "apa sebenarnya" bintang Bethlehem itu ?. Seperti tertulis dalam Injil Matius 2 : 1-2, bintang Bethlehem terbit di ufuk timur telah diamati dan ditafsirkan oleh orang Majusi,yang mendiami wilayah timur Yerussalem, sesuai dengan astrologi waktu itu.

Astrologi telah menjadi bagian budaya berbagai bangsa di dunia selama ribuan tahun bahkan hingga sekarang. Melalui pengetahuan ini keberadaan dan posisi benda-benda langit dinilai mengisyaratkan peristiwa yang terjadi dan akan terjadi di Bumi.

Sebagai contoh versi terkuat dari Bintang Bethlehem adalah konjungsi Yupiter dengan Saturnus di Rasi Pisces pada 7 SM. Konjungsi terjadi bila dua atau lebih benda langit dalam posisi berdekatan di bola langit. Dalam tahun itu, terjadi 3 kali konjungsi. Fenomena ini sangat istimewa karena akan berulang setiap 900 tahun.

Yupiter melambangkan "Planet Raja" atau juga " yang Memerintah Alam Raya". Saturnus melambangkan "Pelindung Bangsa Yahudi". Rasi Pisces melambangkan " Rumah Bangsa Yahudi". Berita yang diisyaratkan oleh konjungsi itu " Telah lahir di tanah Yahudi, Raja dan Pelindung bangsa Yahudi yang memerintah Alam Raya ".

Ada juga versi lain seperti konjungsi Yupiter dengan bintang Regulus –bintan terterang di rasi Leo-- sebanyak 3 kali pada 3 SM hingga 2 SM. Bintang Regulus melambangkan "Bintang Raja". Rasi Leo melambangkan "bangsa Yahudi" atau "Raja / penguasa/pemimpin ". Penafsirannya sama seperti di atas.

Versi lainnya adalah konjungsi Yupiter,Saturnus dan Mars di Rasi Pisces pada 6 SM yang akan berulang setiap 800 tahun. Juga memiliki penafsiran yang tak jauh berbeda. Selain itu ada versi nova (ledakan bintang), komet, meteor, okultasi Bulan terhadap Yupiter dan konjungsi Yupiter dengan planet Venus di rasi Leo.

Hadir belakangan dari astrologi, ilmu pengetahuan modern membangun fondasi dirinya dengan rasionalitas dan melalui percobaan ilmiah (empirisme) guna menjelaskan fenomena alam.


Zaman Renaissance

Semua berawal pada abad 16 - 17 yang dinamakan zaman Renaissance dimana kebudayaan Yunani yang telah disemaikan di tanah Arab berpindah ke daratan Eropa mendapatkan daya hidup dengan mendudukkan fikiran sebagai alat utama untuk memahami alam. Alam dipandang sebagai sebuah objek yang bergerak secara mekanis dan bisa dihitung secara matematis. Alam tidak mengisyaratkan kemampuan spiritual yang mempengaruhi nasib manusia. Alam tak ubahnya seperti jam raksasa yang bergerak sangat teratur.

Akibat gravitasi Matahari, planet-planet mengitari Matahari secara teratur dimana perbandingan kuadrat periode orbit dengan jarak planet ke Matahari pangkat tiga selalu berharga sama (Hukum ketiga Kepler).Dimana dalam rentang waktu yang sama,sebuah planet akan menyapu bidang elipsnya dengan luas yang sama (Hukum kedua Kepler). Dan lainnya.

Hebatnya lagi, fenomena alam yang akan terjadi seperti gerhana Bulan atau gerhana Matahari dapat diperkirakan dengan akurat.


Cahaya Penghubung Jarak

Pada akhir abad 19 Albert Michelson dan Edward Morley melakukan percobaan untuk menentukan kecepatan cahaya. Ternyata cahaya bergerak dengan kecepatan sama diberbagai media dan kemanapun arahnya sebesar hampir 300 ribu km/detik.

Meskipun, jauh hari sebelumnya astronom Denmark, Ole Romer (1644-1710) mengukur kecepatan cahaya dengan mempergunakan data jarak Bumi-Matahari yang telah dihitung dengan cermat oleh astronom Italia, Giovanni Cassini (1625-1712), pada 1672. Diperoleh hasil besar kecepatan cahaya 298 ribu km/detik. Mendekati yang sebenarnya.

Informasi mengenai kecepatan cahaya ini sangat penting dikarenakan satu-satunya isyarat yang menghubungkan Bumi dengan benda langit hanyalah cahaya (tidak hanya cahaya tampak). Dengan informasi ini, manusia dapat memahami dimensi ruang alam semesta. Tidak sebatas pada Tata Surya dan galaksi Bima Sakti.

Jarak yang merentang dari berbagai benda bercahaya di langit memberi pengertian bahwa apa yang terjadi di benda yang bercahaya tersebut tidak seketika tiba di Bumi. Mereka memerlukan waktu,beberapa menit, ribuan bahkan jutaaan tahun, tergantung jaraknya. Apa yang tiba di Bumi sekarang adalah apa yang terjadi di masa lalu benda bercahaya tersebut. Berbeda dengan astrologi masa lalu dimana bintang dan planet berada pada lengkungan bola langit pada jarak yang sama.

Bila informasi yang tiba di Bumi serba terlambat, bagaimana benda-benda langit tersebut bisa (dikatakan) memberitakan apa yang (akan) terjadi di Bumi secara aktual ?. Ilmu pengetahuan modern tidak bisa menjelaskan wilayah kerja astrologi yang berada di ranah metafisika.

Saling Berhubungan

Namun kemajuan ilmu pengetahuan yang bersinergi dengan teknologi pada abad 20 membawa lompatan besar di dalam memandang alam. Pada diri ilmu pengetahuan itu sendiri, berbagai cabang ilmu bahu-membahu mencoba menguak berbagai misteri.

Pertanyaan ribuan tahun lalu ," Apakah benda-benda langit berpengaruh dan berhubungan terhadap kehidupan manusia (atau Bumi) ?". Ternyata masih aktual. Dan layak untuk dijawab.

Henrik Svensmark dari the Danish National Space Center menuliskan hasil penelitiannya pada the journal Astronomische Nachrichten edisi November 2006 bahwa kehidupan di Bumi berkaitan erat dengan radiasi kosmik yang dipancarkan oleh bintang. Pada 2,4 milyar tahun lalu terjadi “ledakan” kelahiran bintang di galaksi Bima Sakti dan ledakan amat dahsyat bintang (supernova).

Radiasi kosmik yang diterima Bumi meningkat tajam, memicu pembentukan awan yang membuat iklim di Bumi berubah menjadi lebih dingin. Bumi berada di era zaman es. Kondisi ini ternyata merangsang kemunculan berbagai jenis organisme sederhana.

Waktu itu, proses fotosintesis yang memperlihatkan produktifitas makhuk biologi di Bumi meningkat tajam. Bakteri dan alga mengonsumsi karbondioksida,yang merupakan hasil ikatan atom karbon-12. Sebagai hasilnya, lautan—tempat awal mula munculnya makhluk hidup—mendapat kelimpahan atom karbon-13 yang turut membentuk batuan karbonat yang menjadi bukti penelitian Henrik Svensmark.

Penelitian Gunther Korschinek dari the Technical University , Munich, Jerman yang dimuat dalam the journal Physical Review Letters edisi 22 Oktober 2004 menyatakan ledakan supernova pada 2,8 juta tahun lalu mengakibatkan kelimpahan atom besi-60 dan mempengaruhi evolusi manusia.

Dua penelitian di atas adalah sedikit contoh penelitian ilmu pengetahuan modern yang mengukuhkan bahwa—meskipun selalu terlambat tiba di Bumi—benda-benda langit turut mempengaruhi jalan sejarah kehidupan di Bumi.



Keterangan gambar :

Siklus Sejarah Bintang

Ilustrasi sejarah bintang dari awan dengan jumlah massa kritis-terbentuk piringan akresi-bintang lahir-bintang meledak dan melontarkan materi ke berbagai penjuru-materi yang tersebar berkumpul- dan kembali ke awal lagi terbentuk awan. Dari tiap tahap ini,berbagai radiasi dipancarkan dan menimpa Bumi.
( gambar oleh Bill Saxton, NRAO/AUI/NSF )






Radiasi Kosmik
Radiasi Kosmik menembus atmosfer Bumi dan memicu pembentukan awan yang berdampak mengubah Bumi menjadi lebih dingin (Gambar oleh Danish National Space Center )








Konjungsi Yupiter dengan Venus di Rasi Leo
Ilustrasi konjungsi Yupiter dengan Venus di Rasi Leo ketika baru terbit di ufuk timur merupakan salah satu versi mengenai bintang Bethlehem. Konjungsi ini dalam pandangan astrologi mengisyaratkan “Kelahiran Raja atau Pemimpin “ (sumber internet)

Label:

28 Mei 2008

Perang Bintang, Akankah Terjadi ?

Ini tulisan lama,lebih dari setahun lalu. Mungkin sudah basi. Namun ada ide yang masih tetap menarik.


Uji coba senjata penangkal satelit (anti satellite, ASAT) oleh negara China pada 12 Januari lalu ternyata menuai protes dari banyak negara (termasuk Indonesia) dan terutama negara adidaya yaitu Amerika Serikat (AS). Pada ujicoba itu satelit cuaca Feng Yun-1 C (FY-1C) yang berada pada ketinggian 800 km dihancurkan melalui alat penabrak kinetik yang dipasang pada rudal balistik. Uji coba pertama kali sejak era 1980-an, setelah meredanya perang dingin (cold war).

Protespun berkembang pada persoalan perkembangan kekuatan militer China yang signifikan dimana parameter yang bisa diukur adalah peningkatan anggaran militer dari prosentase APBN negara Tirai Bambu tersebut,terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Rusia.

Ujicoba ASAT di atas,boleh jadi, adalah puncak dari gunung es kebangkitan negara China untuk mempersiapkan diri sebagai negara superpower abad 21 dimana kekuatan ekonomi dan politik dunia akan berpindah ke benua Asia. Selain China,India mengakui memiliki kemampuan untuk membuat ASAT.

Selain peningkatan anggaran militer, China mengubah paradigma pertahanan negara dan model perang tidak lagi secara konvensional namun mengikuti apa yang seperti tergambar dalam fiksi ilmiah yaitu perang digital.

Semua instrumen militer diharuskan akrab dan melekat dengan perangkat teknologi digital. Ada konvergensi dan integrasi kekuatan militer di semua matra, baik di darat, udara,permukaan laut, bawah laut dan luar angkasa. Kita bisa membayangkan bahwa ramalan China akan menjadi super power pengimbang negara AS bukanlah tanpa dasar.

Karenanya menjadi sangat penting bila basis kekuatan militer berada pada ruang yang begitu strategis yang bisa “menyatukan dan melihat” seluruh permukaan Bumi dengan leluasa yaitu di luar angkasa.

Perang Bintang

Dalam fiksi ilmiah kurun ratusan tahun mendatang sering digambarkan peperangan di luar Bumi menggunakan pesawat antariksa supercanggih,sama seperti halnya perang di angkasa Bumi menggunakan pesawat terbang ataupun rudal dan anti rudal.

Hingga kini perang di antariksa tidak terjadi. Dalam masa perang dingin, “perang” yang diperlihatkan adalah pembuatan dan mengorbitkan satelit yang mampu menundukkan dan bahkan menghancurkan satelit lawan. Satelit yang dipakaipun berfungsi pula untuk memata-matai kondisi lawan dengan melakukan pengamatan (surveilance) dan pengintaian (reconnaissance). Pengamatan adalah bentuk kegiatan pemantauan yang bersifat regular,sementara pengintaian digunakan untuk mengumpulkan dan melacak data-data intelijen spesifik (khusus) yang bersifat siap saji dalam kondisi yang mendesak serta amat penting.

Meskipun begitu, kebutuhan penggunaan satelit sebagai senjata pembunuh masih kalah dibandingkan sistem antirudal balistik dikarenakan dua hal yaitu pertama, waktu yang lebih pendek bagi rudal balistik untuk membunuh sasarannya sambil tetap berada pada jalur lintasannya tatkala masuk kembali ke atmosfer dan; kedua, untuk satelit memiliki kelemahan berkaitan dengan jalur orbitnya yang tetap sehingga mudah diprediksi musuh. Namun untuk melumpuhkan satelit bukan perkara yang mudah dikarenakan laju orbitnya mencapai puluhan ribu km, sebagai contoh satelit Rusia mencapai laju 37 ribu km/jam pada ketinggian di atas 320 km.

Untuk itu secara umum dilakukan dua cara untuk menaklukan satelit yaitu pada satelit yang mengorbit rendah (beberapa ratus km di atas permukaan Bumi) digunakan senjata laser berbasis darat dan menggunakan pesawat tempur konvensional yang telah dimodifikasi seperti F 15 untuk meluncurkan rudal.

Sedangkan pada satelit yang mengorbit tinggi dan geostationer, ribuan km di atas muka Bumi, dipergunakan rudal balistik , senjata energi terarah dan senjata pemancar sinar partikel atau kanon sinar laser yang disematkan pada satelit. Keuntungan penggunaan sinar laser di luar atmosfer Bumi adalah berkas sinarnya dapat dipropagasi tanpa terpengaruh atmosfer Bumi sehingga bisa mengalami penyimpangan ataupun pelemahan energinya.

Awalnya Uni Sovyet mengembangkan Sistem Pemboman Orbit Terpencar (Fractional Orbit Bombardement System,FOBS) dimana sebuah senjata nuklir ditempatkan dalam orbit melalui wahana pengangkut rudal balistik SS-9. Sebelum mencapai orbit yang ditargetkan pada ketinggian 800 km, sebuah roket dengan semburan yang berlawanan arah wahana pengangkut ini menyala untuk mengeluarkan senjata nuklir keluar dari orbit SS-9 dan siap menghantam sasaran yang diincar.

Program FOBS ini menakutkan AS dan sekutunya karena dapat melumpuhkan bateri rudal anti rudal balistik beserta radal peringatan dini yang berbasis di darat. Bila semuanya ini terjadi, akan mudah bagi Uni Sovyet mengirimkan rudal balistik ke sejumlah sasaran di AS karena sudah tidak memiliki “perisai” lagi.

Sebagai tandingannya pada 1960, AS mengembangkan Satellite Inteceptor (SAINT) yang akan memantau satelit musuh lalu menghancurkannya. Dalam perkembangannya, pola penghancuran satelit menggunakan satelit diganti menggunakan rudal balistik berhulu ledak nuklir Nike-Zeus (NZ),program 437 dengan rudal Thor, Miniatur Homing Device (MHD) yang dibawa pesawat F-15.

ASAT yang paling menakutkan adalah menebarkan sejumlah bahan peledak yang berfungsi sebagai ranjau yang ditempatkan pada orbit tertentu. Satelit milik siapapun yang berada dekat ranjau ini akan terkena getahnya.

“Perang antariksa” yang tidak pernah terjadi di atas berakhir setelah Uni Sovyet menghentikan program ASATnya di era 1980-an. Antariksa menjadi tenang, terlebih ada kerja sama antara kedua negara kampium teknologi antariksa tersebut untuk membangun stasiun antariksa internasional, yang merupakan usulan mendiang presiden Ronald Reagen pada 1984.


Kompetisi

Medan laga perang lantas bergeser pada kompetisi untuk sebanyak dan semasif mungkin menguasai jaringan informasi dan telekomunikasi dunia.

Sebagai contoh adalah upaya Uni Eropa dengan meluncurkan satelit Giove-A, satelit pertama dari proyek satelit navigasi Galileo pada 28 Desember 2005. Proyek ini merupakan saingan dari Global Positioning System (GPS) yang dikendalikan oleh militer AS yang merupakan satu-satunya sistem navigasi berbasis satelit yang menjangkau seluruh dunia.

Proyek bernilai 4,27 milliar dollar AS menegaskan Uni Eropa tidak bergantung lagi pada sistem GPS. Keakuratan Galileopun lima kali dari keakuratan GPS.Meskipun ada kerja sama antara Uni Eropa dan AS, kompetisi antariksa tetap tidak bisa melepaskan dari dari hukum pasar. Artinya siapa yang bisa memenuhi kebutuhan pasar, dialah yang menjadi pemenang.



Perang lagi ?

Kompetisi yang menjadi model “perang bintang”baru di tengah dunia dalam kondisi aman boleh jadi dijungkirbalikkan oleh percobaan ASAT negara China. Dunia kembali dihadapkan pada pilihan bahwa perang bintang,seperti yang digambarkan dalam film fiksi ilmiah di atas,bisa terwujud. Nasehat kuno yang mengatakan bahwa untuk menjaga perdamaian tiap negara harus siap berperang tetap ternyata berlaku hingga kini (dan mendatang).

Contohnya seperti yang ditulis oleh Allen Thomson, yang pernah bekerja sebagai analis pada Central Intelligence Agency pada 1972-1985, dalam Jurnal Space Policy Februari 1995 berjudul “Satellite Vulnerability: a post-Cold War issue?” yang mengusulkan pentingnya membenahi manajemen satelit mata-mata AS dan penggunaan ASAT belajar dari perang teluk 1991. Dimana saat itu diketahui Irak memiliki kemampuan rudal jarak menengah SCUD, yang boleh jadi negara lain yang menjadi “rival” AS pun memiliki kemampuan serupa.Misalkan saja untuk satelit mata-mata yang berorbit rendah low earth orbit (LEO), dapat dengan mudah diketahui, bahkan oleh perkumpulan amatir.

Memang ada kesepakatan internasional yang menegaskan bahwa antariksa adalah ruang yang diperuntukkan untuk tujuan damai.Namun bukankah tidak ada yang abadi di dunia ini.

Label:

17 Mei 2008

Mengapa Pergi ke Antariksa ?

Sudah ribuan tahun langit beserta bintang gemerlap yang bertaburan, juga matahari yang terbit-terbenam dengan keindahan panoramanya, dan Bulan yang berubah-ubah bentuk menarik perhatian manusia. Pengamatan lebih teliti kemudian dikenali adalanya planet yang berubah-ubah posisi, komet dan meteor semakin menambah semaraknya warga langit. Ada apakah di sana ?

Pengetahuan manusia atas keadaan langit beserta perubahan fenomenanya menyatu dengan budaya membentuk kepercayaan bahwa langit memiliki pengaruh terhadap kehidupan di Bumi. Langit dipandang sebagai bagian dari kepercayaan.

Pengetahuan mengalami metamorfosis menjadi ilmu pengetahuan mengubah pandangan mitologi langit menjadi bagian dari alam yang harus dipelajari dan dimanfaatkan. Beda dengan ilmu pengetahuan lain, pengetahuan mengenai langit ternyata membutuhkan energi lebih guna mengungkap misterinya dikarenakan hambatan jarak. Justru disinilah letak tantangannya.


Tantangan

Tantangan itu melahirkan penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi baru yang akhirnya memberi dampak positif pada penerapan di kehidupan sehari-hari di Bumi. Sebagai contoh, guna mendeteksi obyek langit yang amat redup maka diperlukan “mata” yang amat tajam berupa teleskop baik optik maupun radio. Penemuan teknologi dalam kedua bidang ini tentu memberi pengaruh pada kegiatan manusia di Bumi yang memerlukan alat berupa teleskop.

Pada akhirnya, hingga sekarang, upaya manusia memahami langit, kemudian ditegaskan sebagai antariksa atau luar angkasa yaitu ruang di ketinggian di atas 100 km dari permukaan Bumi, bukan hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu saja. Berbagai macam proyek yang berkaitan dengan eksplorasi antariksa memiliki misi yang amat beragam. Antariksa telah menjadi bagian yang amat dekat dengan kehidupan manusia. Abad 21 sekarang ini semakin menegaskan betapa kian pentingnya antariksa.

Manusia telah ber-evolusi dari manusia yang menapak Bumi karena memandang hanya Bumi sebagai satu-satunya lingkungan yang memberi prospek kehidupan menjadi manusia kosmos yang memandang Bumi sebagai salah satu dari tempat yang memberi prospek kehidupan.

Keberhasilan pesawat ruang angkasa SpaceShipOne dalam menembus batas antariksa kian memperkuat premis di atas. Pasalnya, antariksa bukan menjadi wilayah eksklusif para ilmuwan dan insinyur yang menggelutinya, tetapi telah menjadi medan penjelajahan masyarakat awam.

Secara ringkas disimpulkan mengapa harus pergi ke antariksa dikarenakan beberapa hal yaitu mempelajari cara hidup dan bekerja di antariksa, penelitian di lingkungan hampa udara dan bebas gravitasi atau gravitasi mikro, mengeksplorasi Tata Surya, memahami bagaimana alam raya ini terbentuk dan mencari planet yang mirip Bumi, dan mempelajari lebih mendalam Bumi.


Manusia atau Robot

Abad 21 juga dikatakan sebagai abad robotika. Perkembangan teknologi per-robot-an sekarang ini sudah mencapai tingkat yang mencengangkan seiring perkembangan teknologi dalam orde nano (atau nano teknologi).

Ada pendapat bahwa tugas manusia di dalam eksplorasi ruang angkasa nantinya bisa digantikan dengan robot. Pendapat ini ada benarnya. Pasalnya, tugas-tugas di antariksa memiliki resiko tinggi yang membahayakan keselamatan manusia.

Kita tahu bahwa telah terjadi kecelakaan dalam misi antariksa berulang kali yang membawa kematian bagi astronot. Tercatat hingga kini telah tewas 21 orang astronot.

Ada banyak faktor yang bisa mengakibatkan kecelakaan atau bencana di dalam misi antariksa. Mulai dari kesalahan prosedur pengoperasian teknologi antariksa, adanya kerusakan—meskipun kecil—dari wahana antariksa yang begitu rumit, hingga faktor di luar prediksi manusia seperti tumbukan dengan benda langit dan ledakan radiasi matahari.

Karenanya, pilihan robot menggantikan tugas manusia adalah pilihan yang wajar. Dalam hal ini telah dikembangkan robot dengan bantuan teknologi virtual reality (disebut robonaut) untuk membantu atau menggantikan tugas astronot.

Namun ada beberapa tugas yang tidak bisa digantikan oleh robonaut itu dalam eksplorasi antariksa yaitu :

Sebagai pengamat (observer) dimana manusia dapat menyeleksi dan memilah obyek pengamatan baik dalam lingkup Tata Surya maupun di kedalaman antariksa (deep space).

Sebagai subyek maupun obyek penelitian dimana manusia bisa melakukan inovasi dari misi penelitian di antariksa, sekaligus memahami pengaruh lingkungan tanpa bobot dan tanpa daya dukung kehidupan bagi metabolisme tubuhnya.



Sebagai teknisi dimana manusia mampu memperbaiki kerusakan mesin yang terjadi dan melakukan upaya perbaikan.

Sebagai pemecah masalah dimana dalam misi di luar angkasa banyak sekali kemungkinan munculnya persoalan yang belum terpikirkan selama persiapan di Bumi. Kreatifitas yang dimiliki oleh manusia merupakan anugerah yang tidak dimiliki oleh robonaut.

Dengan melihat itu semua maka sungguh ideal bila upaya mengeksplorasi antariksa memerlukan kerja sama antara manusia (astronot) dengan robot cerdas (robonaut), dimana robonaut bertugas menggantikan pekerjaan astronot yang memiliki resiko tinggi.

Akhirnya, menjawab pertanyaan mengapa manusia harus pergi ke antariksa maka jawabannya kembali kepada seberapa paham manusia mengerti arti penting antariksa itu bagi dirinya.

Label: ,

15 Mei 2008

Hidup Tanpa Sinar Matahari di Europa



Matahari berperan sangat penting dalam proses kelangsungan makhluk hidup, terutama yang berada di permukaan Bumi. Ambil contoh, untuk tumbuhan, cahaya matahari dipergunakan sebagai sumber energi untuk melakukan proses fotosintesis guna menghasilkan karbohidrat dan oksigen. Namun, ada makhluk hidup mampu berfotosintesis tanpa bantuan cahaya matahari.

Penemuan J. Thomas Beatty dari University of British Colombia dan dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences belum lama ini menunjukkan ada sejenis mikroba yang hidup di kegelapan pada kedalaman samudera mampu berfotosintesis menggunakan radiasi panas Bumi yang keluar dari celah hidrotermal.

Mikroba ini menggunakan sistem antena khusus yang bekerja layaknya parabola mikroskopik untuk mengumpulkan cahaya yang berasal dari panas Bumi. Seperti diketahui bahwa pengertian cahaya bukan hanya cahaya tampak, tetapi juga cahaya yang tak tampak, mulai dari infra merah hingga ultra ungu, juga sinar X dan gelombang radio.

Ada juga mikroba yang menggunakan sedikit cahaya untuk fotosintesis seperti bakteri hijau pecinta sulfur di pantai Mexico. Namun, penemuan mikroba di dasar samudera di atas lebih ekstrem.

Penemuan itu memunculkan gagasan bahwa banyak kehidupan muncul tanpa harus tergantung dari cahaya matahari, tetapi tergantung pada sumber energi lain untuk bisa melakukan fotosintesis. Jika pemikiran ini berlaku untuk banyak tempat di kedalaman samudera di Bumi, maka demikian halnya dengan tempat-tempat lain di luar Bumi. Dengan catatan harus memiliki samudera.

Tempat yang memiliki analogi seperti itu adalah Europa.


Satelit Es Yupiter

Europa merupakan salah satu satelit alamiah terbesar Yupiter, selain Io, Ganymede, dan Callisto yang berhasil diamati Galileo tahun 1610. Keempat satelit ini dinamakan Satelit Galilean. Selain Io, ketiga satelit lainnya merupakan satelit yang banyak mengandung es, karenanya disebut Satelit Es Yupiter.

Namun, Europa lebih ekstrem lagi dari hanya sekedar mengandung es karena seluruh permukaannya diselubungi es setebal 10 – 100 km, dan dibawahnya terdapat samudera. Nah, di dasar samudera satelit berjari-jari 1.569 km ini terdapat hidrotermal sehingga memungkinkannya memiliki samudera, tidak membeku seperti bagian atasnya meskipun berjarak 800 juta km dari Matahari ( 5 kali jarak Bumi-Matahari). Istimewanya lagi, hasil sementara dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa di Europa juga terdapat mikroorganisme.

Temperatur permukaan Europa – 162 C dengan tekanan atmosfer 10-7 bar (seper 10 juta tekanan atmosfer di permukaan Bumi). Bisa dikatakan hampir tidak ada atmosfer di sana.

Kemungkinan

Penelitian pakar geologi keplanetan Brad Dalton dari NASA Ames Research Center dengan membandingkan spektrum cahaya inframerah es di permukaan Europa dengan spektrum inframerah mikroorganisme yang hidup saluran air panas di Yellowstone National Park yaitu sianidium sejenis alga yang berfotosintesis, memperlihatkan kemiripan. Namun alga ini tidaklah tepat diandaikan hidup di Europa karena lingkunganya berbeda.

Penelitian lain dilakukan dan ditemukan jenis mikroba yang cukup realistik mampu hidup di Europa adalah Deinococcus radiodurans , Sulfolobus shibatae dan Escherichia coli.
D. radiodurans mampu hidup di lingkungan yang terkena radiasi ultra-violet dan pancaran ion, ekstrem dingin, hampa dan sangat asam. S. shibatae di lingkungan dengan temperatur 80 C dan sangat asam dengan pH 2. E. coli lingkungan bertemperatur sedang 37 C dan netral pH 7.

Dari ketiganya ini hanya D. radiodurans cukup layak mampu tinggal di permukaan Europa sedangkan S. shibatae tinggal di dasar samudera Europa.Terlebih bahwa S. shibatae mampu hidup di lokasi berlimpah magnesium sulfat dan asam sulfur, yang diduga dalam jumlah besar berada di dasar samudera Europa.


Gambar : Satelit Europa, salah satu dari Satelit Es Jupiter

Label: